aku masih sama
aku masih sama
aku masih suka menikmati hujan
aku menyukai suaranya yang memebentur tanah
aku masih suka menghirup aromanya dalam-dalam
aku masih sama
dengan rindu ini
dengan cinta ini
kamu, masihkah sama?
anonim
biarlah rasa ini tetap menjadi anonim.. tak perlu pendefinisian tak perlu penamaan pula. terlalu banyak kesulitan dan pengharapan jika ia terdefinisi. rasa ini biarlah hanya terasa. tak perlu tau namanya hanya cukup dirasa. itulah yang ingin terus aku rasakan. dan kamu juga tak perlu mendefinisikan rasamu. biarlah mereka tetap menjadi anonim sampai kita siap menerima semuanya.
kerinduan tanah akan hujan
Kiranya rindu tanah akan hujan
sudah terbayar. Lihatlah betapa bahagianya tanah menyambut kedatangan hujan sore
itu. Hujan yang begitu egois pergi bersama musim datang dengan angkuhnya kepada
tanah, sedangkan tanah seperti biasa dengan indahnya menerima hujan kembali
kapanpun dia datang. Tanah tidak pernah membenci hujan sejauh dan selama apapun
hujan meninggalkannya. Tanah sangat merindukannya sampai dia menahannya dalam
kekeringan. Tapi apakah pernah hujan merindukan tanah? Apakah hujan datang karena
dia merindukan tanah? Ataukah hanya sekedar kewajiban hujan kepada tanah? Tidak
ada yang tahu kebenaran akan kedatangan hujan, yang mereka tahu hujan datang
kepada tanah dan rindu tanah sudah terbanyar. Alasan kedatangan tidaklah begitu
penting, yang penting hujan sudah datang. Tak bisakah kau seperti hujan? hanya datang kepadaku tanpa harus ada alasan.
permainanmu VS janjiku
Aku mencoba untuk lebih sering
menyapamu lagi tapi apa tanggapanmu? Kau seolah melupakanku. Siapa yang memulai
untuk lebih sering menyapa? Kamu ya itu kamu, kemarin memang aku sudah berjanji
untuk tidak terjatuh lagi. Tapi kamu yang terus menerus menggoyahkan langkah
dan janjiku. Kini apa yang ada, aku sudah berjalan lagi kearahmumengingkari
semua janjiku karena aku pikir kita punya keputusan yang sama untuk berjalan
mendekat satu sama lain. Tapi kamu malah melangkah menjauh lagi dan semakin
menjauh. Permainan apakah yang sedang ingin kau mainkan untukku? Membuatku
terlihat seperti orang bodoh. Haruskah akau menyerah,tertipu olehmu kemudian
mendekat lagi. Merasakan sakit lagi, meyakinkan diri, mengobati luka sendiri
kemudian bisa bangkit. Setelah itu kau akan seperti pangeran menawarkan
kefanaan lagi yang membuatku berjalan
kearahnya kemudian belum sempat sampai kau pergi menghilang dan membiarkan aku
tersesat lagi. Itukah permainan yang ingin kau terus mainkan untukku? Dan aku
akan tetap dengan kebodohanku mengikuti alur permainanmu sampai pada saatnya
aku menyerah denganmu dan permainanmu. Mungkin itu yang akan terus aku lakukan.
biarkanlah semua tetap seperti ini
Biarkanlah semua tetap seperti ini. Janganlah kau merubah
apapun. Bukan aku tidak menginginkannya tetapi hanya karena aku takut. Aku sangat
takut akan terjatuh lagi kepadamu. Tetaplah seperti ini. Sedikit saja kau
memberikan perhatianmu pasti aku akan sangat goyah. Dan aku tak punya sandaran
lain jadi sangatlah mudah untukku terjatuh. Ajakanmu kemarin ditengah malam itu
kenyataan ataukah hanya sekedar kau bermimpi sedangkan paginya kau tak punya
kuasa untuk meralatnya karena aku sudah mengiyakannya. Setelah hari itu kau tak
ada tanggapan lagi akan hal yang kemarin. Aku sudah mendekatimu meski belum
benar-benar terjatuh. Seenggaknya
ajakanmu kemarinlah yang membuatku berjalan lagi kearahmu. Maaf aku
sekali lagi mengingkari janjiku padamu. Janjiku untuk tidak lagi melangkah
kearahmu.
Mencintai, Mengagumi, dan Mengharapkan
Ketika suatu sore pikiranku
tergerak untuk memikirkan sesuatu. Dimana ada begitu banyak penolakan dari
hatiku tentang apa yang aku pikirkan. Mencintai, mengagumi dan mengharapkan
kiranya adalah sesuatu yang berbeda. Mungkin mudah jika hal itu berasal dari satu
objek yang sama. Tapi kini aku harus menerimanya dari objek yang berbeda.
Mencintai dia yang aku tak pernah
menyangka hadirnya akan membuatku bisa mencintainya. Mengagumi dia yang dari
awal sampai akhir akan membuatku tetap mengagumi segala tingkah hidupnya dan
yang terakhir adalah mengharapkan dia yang pernah mengisi kekosongan hati
dimasa lalu yang sampai kini tak bisa menampik kehadirannya yang sangat berati
dalam hidup ini. Aku hanya ingin memiliki satu dari mereka. Yang mana dia akan
tetap membuatku merasa bahagia tidak merasakan kehilangan dan penyesalan karena
telah memilihnya. Bukan sebuah pilihanku tetapi kebisaan dan penentuan takdir
untuknya bisa menjadikan aku sebagai
miliknya dan pilihannya yang tak akan pernah disesalinya dalam sisa hidupnya
nanti. Begitulah sekiranya harapanku untukmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)